by

Pemerintah Perlu Digerakan untuk Perhatikan Pendidikan dan Kesehatan di Papua

Jayapura, KameraPapua.com, (25/02/2021) – Kondisi pendidikan dan kesehatan di Papua semakin parah. Sebelum pandemi korona saja pendidikan berjalan di tempat, apalagi dengan saat pandemi korona yang membutuhkan hadirnya sarana dan prasarana internet.

Sementara dalam hal kesehatan, selain sarana dan prasarana kesehatan yang belum memadai, faktor kedispilinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan masih diragukan.

Dalam pertemuan Pimpinan Keuskupan-keuskupan Gereja Katolik di Tanah Papua yang berlangsung di Jayapura  22 -26 Februari 2021, situasi pendidikan dan kesehatan di Papua ini menjadi perhatian khusus.

Para pemimpin keuskupan yang hadir dalam pertemuan ini diantaranya, Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar,OFM;  Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito, OFM; Administrator Keuskupan Timika RD Marthen Kuayo; dan  Vikjen Keuskupan Agung Merauke, RP Hengky Kariwop,MSC.

“Sebelum adanya pandemi virus korona, keadaan sudah parah. Dan sekarang, dengan aturan untuk “belajar dari rumah” ganti belajar tatap-muka di sekolah, keadaan sungguh parah. Guru (dan murid) yang biasa bolos kini  bolos dengan resmi dan restu untuk menghindari virus korona. Internet di banyak tempat memang tidak ada; tetapi inisiatif lain pun tidak ada. Kita sedang menambah angkatan-angkatan buta huruf yang baru,” kata Uskup Leo Laba Ladjar mewakili para pimpinan Keuskupan dalam konfrensi pers di Jayapura, pagi ini, Kamis (25/2).

Para pimpinan keusukupan di Papua ini menilai, dana yang dianggarkan untuk pendidikan amat besar. Dari dana itu banyak orang muda diberi beasiswa untuk belajar di perguruan tinggi  dalam dan luar negeri. Tetapi sementara itu pendidikan dasar makin keropos sehingga pendidikan tinggi itu pun pasti rapuh.

“Untuk memperbaikinya kita tidak perlu ikut bermimpi dengan belajar “online”, tetapi kembali ke disiplin belajar-mengajar yang tradisional. Pemerintah daerah memanfaatkan dana pendidikan dengan menyediakan sarana-sarana berupa: gedung sekolah, rumah guru yang layak huni, guru yang setia di tempat tugas,dan menerima jatah gajinya di tempat tugas,” ,”tegasUskup Leo yang didampingi para pimpinan keuskupan di Papua.

Menurut para pimpinan keuskupan, Pemerintah Provinsi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan di Provinsi Papua” (Ps 56:1). Mengenai pemerintah kabupaten, UU Otsus tidak mengatakan apa-apa. Namun tahun-tahun terakhir ini ada ketetapan yang menyerahkan urusan pendidikan dasar (SD,SMP) ke kabupaten/kota sedangkan SLTA ke provinsi.

Para pemimpin keuskupan mengingatkan, kepada Bupati-bupati  bahwa keadaan persekolahan di banyak tempat di pedalaman dan pegunungan, amat menyedihkan.

Sementara yang menyangkut kesehatan, para pimpinan keuskupan di Papua memberi catatan khusus bahwa dengan adanya pandemi virus korona, perlu dipacu untuk menjaga kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan dan diharapkan dengan vaksinasi,  virus korona sudah bisa diatasi.

“Pemerintah daerah digerakkan untuk memperhatikan kesehatan rakyatnya. Terkesan kita sudah lebih maju dan lebih peduli dengan kesehatan, tetapi jangan lupa bahwa masih banyak hal yang disebut dalam UU Otsus (pasal 59) yang menjadi kewajiban pemeritah daerah yaitu: mencegah dan menanggulangi penyakit-penyakit endemik dan penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup manusia, dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan beban masyarakat serendah-rendahnya,” ungkap para pemimpin keuskupan ini.

Lebih lanjut dikatakan, di banyak tempat ada Puskesmas, tetapi sering kosong; petugas kesehatan tinggal di tempat lain yang lebih nyaman. Angka kematian ibu dan anak masih tinggi karena nutrisi yang tidak bergizi. Janganlah lupa bahwa masih banyak hal lain yang wajib dikerjakan Bupati untuk kesehatan warganya.

Dalam pertemuan ini, selain para pimpinan keuskupan membicarakan masalah pendidikan dan kesehatan, para pimpinan keuskupan ini juga membicarakan tentang kekerasan yang masih terjadi di Papua, hak masyarakat adat, di samping membicarakan persoalan internal menyangkut kerjasama antara keuskupan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *